Maskapai penerbangan menghadapi biaya operasional meningkatKenaikan Biaya Operasional, Maskapai Tak Mampu Serap Beban Avtur

Jakarta, CNN Indonesia – saat ini menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya biaya operasional, terutama terkait bahan bakar avtur, yang dipicu oleh situasi di Timur Tengah. Willie Walsh, Direktur Jenderal Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (), dalam wawancaranya dengan BBC, menegaskan bahwa maskapai tidak lagi mampu menanggung beban biaya yang terus membengkak. Dia memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia dipastikan akan berdampak langsung pada kenaikan harga tiket pesawat dalam waktu dekat.

“Sama sekali tidak ada cara bagi maskapai penerbangan untuk menyerap biaya tambahan yang mereka alami saat ini,” ujar Walsh, seperti dilansir Independent. Walsh menambahkan bahwa meskipun mungkin ada beberapa upaya dari maskapai untuk menawarkan diskon guna menarik minat penumpang, dalam jangka panjang, harga tiket akan terpengaruh oleh harga minyak yang terus meningkat.

Meskipun kondisi ini tidak diperkirakan akan menyebabkan pembatalan penerbangan massal secara global, Walsh mengingatkan bahwa potensi hambatan logistik patut dicermati, terutama menjelang musim liburan. “Kekhawatiran utama adalah jika pasokan alternatif yang memadai tidak tersedia, kita mungkin akan menghadapi kelangkaan saat memasuki puncak musim panas,” ungkapnya.

Kondisi keuangan beberapa maskapai besar menunjukkan dampak serius dari krisis ini. IAG, perusahaan induk British Airways, baru-baru ini mengungkapkan bahwa laba mereka diperkirakan akan tergerus sekitar €2 miliar (setara Rp34,5 triliun) akibat kenaikan biaya bahan bakar yang tidak terduga.

Namun, CEO IAG, Luis Gallego, tetap optimis bahwa pasokan bahan bakar jet untuk musim panas mendatang tidak akan terganggu total. Untuk mengatasi krisis ini, berbagai langkah sudah diambil oleh otoritas terkait. Sekretaris Transportasi Inggris, Heidi Alexander, menyatakan bahwa pemerintah berupaya untuk memastikan rencana liburan musim panas masyarakat tidak terganggu oleh kelangkaan bahan bakar.

Alexander juga mengungkapkan bahwa pasokan bahan bakar tambahan telah diimpor dari Amerika Serikat, bersamaan dengan peningkatan produksi dari kilang-kilang domestik di Inggris. Selain itu, pemerintah menerapkan aturan darurat yang membolehkan maskapai untuk menggabungkan penumpang dari beberapa penerbangan berbeda ke dalam satu pesawat demi efisiensi penggunaan bahan bakar.

Tren pembatalan penerbangan juga mulai meningkat, dengan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan ratusan jadwal penerbangan di Inggris dibatalkan untuk menyesuaikan kapasitas dengan ketersediaan bahan bakar. Maskapai memiliki fleksibilitas untuk melakukan pembatalan tanpa memberikan kompensasi, selama pemberitahuan dilakukan minimal dua minggu sebelum keberangkatan.

Krisis ini berakar dari melonjaknya harga bahan bakar jet global, yang telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak konflik di Timur Tengah, di mana Iran memperketat jalur keluar-masuk kapal tanker di Selat Hormuz. Menanggapi situasi ini, seorang juru bicara pemerintah Inggris menyatakan bahwa maskapai penerbangan tidak mengalami kelangkaan bahan bakar jet saat ini, karena umumnya komoditas avtur dibeli jauh sebelumnya melalui kontrak berjangka. Pemerintah bersama bandara dan pemasok terus menjaga ketersediaan stok untuk memastikan operasional penerbangan tetap berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *