MPR batalkan lomba cerdas cermat Kalbar setelah penolakan sekolahMPR Batalkan Lomba Cerdas Cermat Setelah Penolakan Sekolah

Jakarta, CNN Indonesia — Majelis Permusyawaratan Rakyat () memutuskan untuk membatalkan penyelenggaraan ulang final (LCC) sosialisasi empat pilar yang seharusnya diadakan di Provinsi . Keputusan ini diambil menyusul adanya polemik mengenai penjuriannya pada 9 Mei lalu yang menjadi sorotan publik.

MPR mengumumkan bahwa batalnya lomba ulang tersebut disebabkan oleh penolakan dari dua , yaitu SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, yang merupakan peserta dalam lomba tersebut. Ketua Badan Sosialisasi MPR, Abraham Liyanto, menjelaskan bahwa sebelum mengambil keputusan, mereka telah menerima kunjungan dari perwakilan SMAN 1 Pontianak pada 14 Mei dan SMAN 1 Sambas pada 15 Mei, yang secara resmi menyatakan ketidaksetujuan mereka untuk mengikuti gelaran ulang final lomba cerdas cermat.

SMAN 1 Pontianak merupakan salah satu tim yang merasa dirugikan oleh keputusan dewan juri dari Kesetjenan MPR pada babak final yang videonya viral di media sosial. Sekolah tersebut menegaskan tidak ingin mengubah hasil yang sudah ada dan mendukung SMAN 1 Sambas untuk melanjutkan ke tingkat nasional.

“Kedua sekolah ini sepakat untuk tidak mengadakan lomba ulang. Hari ini, kami telah mengadakan rapat lengkap dengan pimpinan MPR dan memutuskan untuk mengikuti apa yang telah disampaikan oleh kedua sekolah tersebut,” ujar Abraham Liyanto dalam konferensi pers di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (18/5).

Sebagai langkah ke depan, MPR berkomitmen untuk mengevaluasi pelaksanaan lomba-lomba di masa mendatang. Salah satu langkah yang akan diambil adalah menunjuk juri independen dari luar MPR untuk memastikan objektivitas. Juri yang akan dipilih berasal dari kalangan akademisi di masing-masing daerah, antara lain dosen dan pakar hukum.

“Kami berupaya untuk meningkatkan kualitas lomba ini dengan pengaturan yang lebih baik dan juri yang profesional,” ungkap Abraham Liyanto.

Awalnya, MPR berencana untuk menggelar ulang final LCC di Kalimantan Barat sebagai respons terhadap polemik yang mencuat mengenai penjurian yang dianggap tidak adil dan viral di media sosial. Keputusan untuk menggelar ulang ini disampaikan oleh Ketua MPR, Ahmad Muzani, dalam jumpa pers di kompleks parlemen pada Rabu (23/5). Muzani menekankan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden tersebut.

Insiden kontroversial dalam final lomba cerdas cermat ini terjadi ketika dewan juri memberikan penilaian yang berbeda terhadap jawaban yang sama yang diajukan oleh dua tim. Dalam situasi tersebut, Grup C dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban yang dianggap benar oleh mereka, tetapi juri justru memberikan penilaian negatif. Ketika tim lain memberikan jawaban yang sama, mereka justru dinyatakan benar.

Protes dari peserta pun muncul, mempertanyakan keadilan dari keputusan juri. MPR kemudian menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut yang menjadi viral dan menimbulkan banyak pertanyaan mengenai transparansi dalam penjurian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *